Harmoni Keluarga Inspiratif

Selesai dengan Diri Sendiri? By Siti Rohmah Megawangi

Wednesday, December 18, 2019
Ada banyak pikiran berkecamuk dalam benakku setiap kali mendengar teman atau sahabat yang sedang mempersiapkan pernikahan. Kemudian muncul pertanyaan, sudah sejauh mana persiapanku?

Sungguh, aku selalu merasa takut menghadapi pernikahan karena ada sesuatu yang terus menghantuiku. Hal itu membuat aku belajar lebih keras tentang bagaimana mempersiapkan pernikahan yang ‘ideal’. Juga belajar tentang bagaimana ilmu pengasuhan yang benar. Pada saat teman-teman seusiaku masih belum memikirkan pernikahan atau bahkan masih asyik nongkrong di cafe dengan perbincangan khas anak muda, aku justru ikut kuliah daring di Institut Ibu Professional (IIP) bersama para perempuan lainnya. Teman-temanku di IIP kebanyakan sudah menikah, bahkan beberapa sudah memiliki anak. Semua proses belajar itu aku lakukan demi mempersiapkan diri sebaik mungkin menghadapi pernikahan yang akan kujalani di masa depan.

Banyak reaksi yang kuterima ketika teman-teman atau sahabatku mengetahui hal tersebut. Ada yang mendukung dan setuju dengan apa yang aku lakukan, tetapi tak jarang juga ada yang heran atau bahkan tertawa mendengarnya.

Ah, sudahlah! Mereka kan tidak tahu alasan sebenarnya aku ikut ini. Ah, sudahlah! Mereka mungkin memang belum memikirkannya. Itu urusan mereka, bukan urusanku!

Lalu, mengapa judul tulisan ini “Selesai dengan Diri Sendiri?” Jadi, begini ….


Awalnya aku memiliki keluarga yang bahagia dan penuh kasih sayang hingga semua kebahagiaanku tersebut terenggut dengan adanya pertengkaran demi pertengkaran yang terjadi dalam rumah tangga kedua orang tuaku. Puncaknya, pada usia remaja mereka berdua akhirnya bercerai.

Hatiku hancur berkeping-keping rasanya menghadapi kenyataan itu. Aku harus menjadi salah satu anak broken home yang sering dicap negatif oleh orang di luar sana. Keluargaku tidak utuh lagi sehingga kami tidak bisa melakukan aktivitas ‘normal’ seperti keluarga lainnya.

Setelah perceraian itu, aku bebas dari suara-suara kemarahan atau nada-nada tinggi yang menganggu telingaku. Namun, hatiku kosong. Apalagi, setiap kali melihat teman atau sahabatku bisa berkumpul secara utuh dengan keluarganya. “Andaikan aku juga bisa begitu,” batinku.

Setelah kejadian ini, tak jarang aku merasa tak ingin menikah. Di sisi lain, aku pun ingin membangun keluarga bahagia bersama suami dan anak-anakku kelak. Sungguh keadaan yang dilematis.

 Suatu hari, aku membaca sebuah artikel tentang cerita kehidupan rumah tangga Ibu Septi dan Pak Dodik di sebuah media sosial. Aku pun membatin, ingin sekali seperti mereka. Hari berganti, tahun pun berlalu.

Takdir membawaku untuk belajar di IIP dan beraktualisasi diri di sini. Sedikit demi sedikit materi perkuliahan di IIP berhasil mengikis beberapa traumaku. Bahkan, hubunganku dengan Mama yang sempat memburuk usai perceraian itu pun berangsur membaik. Bahkan, penuh cinta kasih hingga saat ini, masyaAllah.

Aku pun akhirnya memaafkan kedua orang tuaku dan menerima kenyataan bahwa perceraian keduanya juga campur tangan Allah di dalamnya. Aku juga belajar dari kegagalan orangtuaku di masa lalu agar tidak mengulangi kesalahan yang sama di masa depan. Apalagi, materi perkuliahan pra-Bunsay tentang selesai dengan diri sendiri membuatku semakin yakin untuk terus melakukan healing secara menyeluruh demi ketenangan dan kedamaian hatiku secara pribadi.

Alhamdulillah, aku merasa ‘hampir’ selesai dengan diriku sendiri. Hingga aku dihadapkan pada tantangan baru saat mendengar kabar perceraian kakak kandungku. Hatiku remuk redam mendengarnya. Aku kembali mendapat trigger dari kejadian itu dan kembali kepada ketakutanku yang justru semakin nyata dari sebelumnya.

Aku terus merasakan keresahan dan kegelisahan dalam diriku. Hal tersebut sangat mengganggu aktivitasku, pikiranku menjadi tidak fokus. Belum lagi, di saat bersamaan aku seperti menemukan puzzle demi puzzle menuju inner child-ku. Di titik itu, aku pun merasa, “I need a professional help because I can’t handle it by myself as usual.

Pada situasi itu, seorang teman mengajakku untuk ikut kelas akupresur di salah satu mal di Jakarta. Di kelas itu, aku pun mengutarakan ketakutanku akan pernikahan karena kejadian yang menimpa kedua orangtua dan juga kakak kandungku. Aku juga bertanya bagaimana caranya untuk menemukan ‘sesuatu’ yang berkaitan dengan inner child-ku? Sebab, aku ingin sebelum menikah aku sudah selesai dengan diriku sendiri sehingga trauma ini tidak berdampak pada rumah tanggaku di masa depan.

Lantas bagaimanakah jawaban dari pengampu kelas tersebut? Dia menjawab, “Fokuslah pada ketakutanmu saat ini tentang pernikahan. Sedangkan untuk ‘sesuatu’ yang berkaitan dengan inner child-mu when you are ready, it will show you. Remember that you have to accept your timing because healing is we work in process.

Artinya, aku tidak perlu berusaha keras untuk segera menemukan inner child-ku agar aku bisa segera selesai dengan diriku sendiri. Mengapa? Sebab, setiap orang punya waktunya masing-masing. Lagi pula, ketika aku siap, ‘sesuatu’ itu akan menunjukkan diri. Jadi, aku harus menikmati setiap proses healing yang aku jalani.

Sebelum mengikuti kelas itu aku berpikir, “Aku memang butuh teman-teman dan sahabat yang bisa mendukung dan meyakinkan aku, bahwa aku bisa hidup bahagia di pernikahanku nanti. Tapi, sepertinya yang aku butuhkan hanyalah laki-laki yang bisa meyakinkan itu.”

Setelah mendapatkan penjelasan dari pengampu kelas tersebut, aku pun berpikir, “Oh, tidak, sepertinya aku tidak butuh laki-laki yang bisa meyakinkanku. Tapi, aku butuh diriku sendiri untuk melakukannya.”

Tulisan ini kupersembahkan kepada teman-teman yang tengah berjuang untuk "selesai dengan dirinya sendiri". Apa pun tantangan yang sedang kalian hadapi, ingat kalian tidak sendirian. Mari berjuang bersama!

 
Love,
Dandelion


Post Comment
Post a Comment