Harmoni Keluarga Inspiratif

Aku Ingin Melihat Dudi Lagi by Isya

Wednesday, December 18, 2019


Uky suka sekali mengayuh perahu kecilnya ke padang lamun. Di sana ada Dudi, si dugong kecil, sahabatnya. Padang lamun adalah tempat Dudi dan induknya mencari makan.

Lamun mirip seperti rumput yang mengakar ke dasar laut dangkal. Akarnya mencengkeram kuat dasar laut sehingga dapat melindungi pantai dari gerusan ombak dan gelombang. Sebab itulah, Dudi, induknya, dan hewan laut lainnya suka ke padang lamun untuk mencari makan.

Uky pertama kali mengenal Dudi saat pergi ke Teluk Banten untuk bermain. Ada suara hewan yang tidak pernah ia dengar ketika mengayuh perahunya. Ternyata dari kejauhan datanglah sepasang dugong. Uky yang penasaran segera memakai kacamata renang dan menceburkan diri ke air. Ia mengamati dengan takjub. Semenjak itu, Uky sering ke padang lamun di teluk untuk melihat Dudi dan induknya.

Dudi kecil sangat lucu. Ia selalu berenang dengan induknya. Kadang Uky ikut menyelam, tetapi tidak terlalu dekat. Takut mengganggu Dudi dan sang induk.

Sore itu, Dudi dan sang induk sedang asyik makan lamun. Namun, tiba-tiba Dudi berhenti makan dan mengelepar-gelepar. Sang induk menatap Dudi dengan cemas.

“Dudi, kamu kenapa?” ujar Uky cemas.
Uky segera melompat ke dalam laut. Dengan hati-hati ia mendekati Dudi. Sambil berharap sang induk tidak mengamuk menyerangnya.

Untung saja sang induk membiarkan Uky mendekati Dudi. Ternyata ada kantung plastik yang tersangkut di mulut Dudi. Plastik itu tersangkut di antara kerongkongan dan rongga mulut, sebagian plastik terurai keluar mulut karena tersangkut di gigi. Uky pun segera menarik kantung plastik itu. Sedikit demi sedikit. Perlahan-lahan.

Akhirnya, plastik itu bisa terlepas. Dudi langsung berenang cepat mendekati sang induk. Sang induk segera menggesekkan kepalanya seraya memeriksa kondisi anaknya. Uky menatap mereka berdua dengan senyum lebar. Setelah itu, ia kembali ke atas perahu kecilnya.

Tak disangka sang induk dan Dudi berenang ke permukaan mendekati perahu Uky. Dudi mendekat. Uky yang heran menyelupkan tangannya ke laut. Ternyata Dudi memperbolehkan tangan Uky menyentuhnya, sebagai rasa terima kasih. Uky senang sekali. 

Dudi dan sang induk berenang menjauh, Uky menatap sambil tersenyum. Setelah keduanya hilang dari pandangan, Uky mengalihkan matanya ke padang lamun. Ditatapnya lamat-lamat. Ternyata di sana sini banyak sampah plastik di dasar laut. Ada botol air mineral, kantung plastik, dan bungkus makanan kecil.

 ***

“Assalamu’alaikum!” sapa Uky dengan suara lantang.
“Wa’alaikumsalam,” jawab Ibu dan Bapak bersamaan.
“Eh, Bapak sudah pulang! Bagaimana hasil melautnya, Pak?” tanya Uky dengan mata melebar.
“Alhamdulillah, Nak. Insyaallah, cukup untuk makan sekeluarga,” ucap Bapak sambil mengelus kepala Uky.
“Bagaimana kabar, Dudi, Nak?” tanya Bapak semringah.
“Dudi tambah gemuk, Pak. Tapi, kemarin Dudi sempat tersedak plastik di padang lamun,”
“Lalu, apa Dudi baik-baik saja?” tanya Ibu sambil mengelus kepala Uky.
Uky mengangguk, “Plastiknya sudah Uky keluarkan, Bu.”
“Bapak yakin Dudi tidak apa-apa setelah Uky berhasil menolongnya. Tak usah bersedih, ya!” lanjut Bapak, “Ternyata sudah sampai di sana sampah-sampah itu, ya.”
“Memangnya sampah plastik itu dari mana, Pak?” tanya Uky penasaran.
“Sampah-sampah itu asalnya dari pantai dan terbawa arus laut sampai ke padang lamun,” jelas Bapak.
“Semoga tidak ada lagi kejadian seperti itu, ya, Uky!” seru Ibu.
“Iya, Bu. Uky harap juga begitu, kasihan hewan-hewan di laut itu,” jawab Uky dengan penuh harap.

***

Uky masih memikirkan kejadian kemarin siang di padang lamun. Uky menatap langit dengan kening berkerut, memikirkan perkataan Bapak tentang sampah dari pantai yang terbawa arus laut.
“Hoi!”
Uky terlompat di kursinya. Beberapa teman sekelasnya tertawa keras melihat reaksi Uky.
“Ahahaha ... bengong saja kau, Ky! Lapar?” ujar Rahman teman sekelas Uky.
“Ah, kau, Man. Sampai kaget aku!” ucap Uky sambil memegang dadanya yang berdetak kencang.
“Tapi, jadi nggak bengong lagi, kan?” balas Rahman.
“Ada apa, sih, Ky? Serius gitu,” tanya Sarmi.
“Di padang lamun banyak sampah bertebaran. Kemarin Dudi sempat tersedak plastik keresek,”
“Dudi dugong itu? Wah, harusnya dia makan lebih berhati-hati,” ucap Sarmi.
“Karena plastik bening itu menempel di lamun, mungkin Dudi tidak mengerti benda apa itu,”
“Wah, kasihan Dudi. Lalu, kenapa kamu bengong, Ky?” tanya Rahman.
“Aku sedang berpikir bagaimana membersihkan padang lamun dari sampah plastik. Kalian mau ikut?”
“Wah, pikiranmu terlalu berat. Nanti juga bersih sendiri, kan terbawa ombak,” ujar Sarmi.
“Justru akan semakin jauh ke laut lepas kalau terbawa ombak. Dan akan semakin banyak hewan laut yang terkena nantinya,” ujar Uky.
“Sudah, Uky. Kita masih kecil, tidak akan bisa membersihkan sampah itu di padang lamun yang luas,” ucap Rahman tak peduli.
“Tapi, kan, setidaknya usaha,” ucap Uky.
“Sudahlah, Uky. Lupakan!” ujar Sarmi sambil berlalu pergi bersama Rahman.
Uky menatap kedua temannya dengan sedih.

***

Uky berjalan menenteng karung di pantai menuju perahu kecilnya. Tampangnya kusut. Bapak yang sedang menyulam jaring melihat Uky dengan kening berkerut, didekatinya putra tunggalnya itu.
“Uky, untuk apa karung-karung ini?” tanya Bapak penasaran.
“Mengumpulkan sampah plastik di padang lamun, Pak,” jawab Uky.
“Mana Sarmi? Biasanya ia ikut kalau ke padang lamun,”
Uky menjawab dengan mengangkat kedua bahunya. Bapak paham betul, suasana hati Uky sedang tidak enak.
“Uky, mau menunggu Bapak sebentar?” tanya Bapak sambil tersenyum.
“Menunggu untuk apa, Pak?” Uky penasaran.
“Bapak mau bermain dengan Dudi di padang lamun,” seru Bapak dengan wajah lucu.
Uky seketika tersenyum lebar dan mengangguk mantap. Baginya sang Bapak adalah sahabat terbaik.
Berangkatlah Uky dan Bapak ke padang lamun. Bapak dan Uky bahu-membahu mengambil sampah plastik di sekitar padang lamun. Kadang Uky akan menyelam dan mengambil sampah di dasar lamun, bergantian dengan Bapak. Uky juga tak lupa memperkenalkan Bapak dengan padang lamun kesukaannya, tentang spot kesukaan Dudi dan induknya makan, dan spot berenang kesukaan Uky. 

***

“Pak Hasan! Pak Hasan!” teriakan Pak RT terdengar dari depan rumah.
Bapak segera berlari meninggalkan dapur, “Iya, Pak. Ada apa?”
“Ada hewan besar terkapar di pantai. Besar sekali!” lanjut Pak RT, “Mari ke pantai, Pak!”
Bapak dan Pak RT segera menuju pantai, Uky pun mengekor di belakang Bapak.
Sesampainya di pantai, Pak Hasan kaget bukan kepalang. Hewan yang terkapar merupakan ikan paus berwarna hitam. Tubuhnya sudah dikerumuni lalat dan berbau tak sedap. Di sekeliling mulutnya terdapat bekas muntahan bercampur plastik. Tak terasa air mata Pak Hasan dan beberapa warga kampung mengalir. Bagi para nelayan yang melaut di laut luas, ikan paus adalah salah satu teman mereka. Mereka melindungi para nelayan dari hiu yang berkeliaran.
“Ayo, mari kita segera kuburkan bangkai paus ini,” ujar Bapak kepada warga kampung.
Tubuh ikan paus itu dikuburkan di dekat kebun kelapa, di lapangan yang cukup luas. Setelah dikuburkan, banyak warga yang masih terdiam menatap gundukan tanah. Tak sedikit di antara mereka yang menundukkan kepala, sedih.

***

Malam hari ini warga dikumpulkan di lapangan, di dekat makam paus. Warga mulai mendiskusikan kejadian terdamparnya sang paus kemarin pagi. Tak sedikit yang mulai mencetuskan beberapa ide terkait berbagai sampah di kampung mereka. Uky ada di sana, duduk di samping Bapak sambil mendengarkan. Mata dan hati semua warga sudah semakin terbuka. 
 
***

Keesokan paginya, warga sudah mulai bergerak bersama-sama, tak lupa membawa sapu lidi, pengki, karung, dan jaring. Mereka mengajak anak dan istrinya ke pantai, membersihkan sampah yang menumpuk. Warga pun mulai belajar mengolah sampah dan bersama mengelola sampah yang ada. 

***

Di sore yang indah di padang lamun, Uky bertemu dengan Dudi lagi. Kali ini Sarmi dan Rahman juga ikut, setelah siang tadi menyelam mengumpulkan sampah bersama. Sore ini, mereka bisa tertawa bermain dan berenang bersama Dudi di padang lamun yang bening tanpa sampah.




Profil Penulis:
Kak Isya (Isyana Kuncoro Dewi) merupakan sarjana Biologi yang cinta binatang. Ia suka membaca buku dan menonton ensiklopedi alam. Saat ini, beliau mulai belajar menulis dengan mengikuti berbagai kelas daring. Adik-adik bisa berkomunikasi dengannya melalui:
WA     :    085882920182
surel    :    isyanakd@gmail.com
FB       :    Isyana Kuncoro Dewi

1 comment on "Aku Ingin Melihat Dudi Lagi by Isya"
  1. Syukurlah berakhir dengan padang lamun yang bebas dari sampah

    ReplyDelete