Harmoni Keluarga Inspiratif

Selasa Seru: Serba-serbi Ibu di Ranah Domestik - Milfa Myllana

Wednesday, August 23, 2017


Anggota ketiga atau terakhir untuk Diskusi Seru Selasa grup whatsapp IIP Jakarta 01 22 Agustus 2017 adalah Milfa Myllana. Simak yuk, cerita Milfa.....


MENJAGA MOOD DAN KEBAHAGIAAN SEBAGAI IRT

Selamat malam.
Salam kenal, saya Milfa. Ibu 2 anak yang keduanya masih TK. Saya sudah menjadi IRT selama 6,5 tahun dan tidak sekalipun bosan dan berkeinginan kembali bekerja kantoran 😬. Saya psikolog klinis dewasa, teman-teman seangkatan mah udah banyak yang terkenal sekarang.


PERSIAPAN SEBELUM MENJADI IRT
1. Siapkan motivasi yang benar
Lebih baik lagi bila motif itu intrinsik (dari dalam diri), bukan ekstrinsik (dari orang lain). Saya hingga usia 24 tahun sebenarnya bercita-cita jadi psikolog TV atau trainer, apalagi waktu itu jalannya sudah terbuka lebar. Niat ini berubah ketika saya menyusun tugas akhir S2, saya mengambil judul "Adaptasi Peran Ibu Bekerja yang Punya Anak Balita".
Hasilnya: 
πŸ”ΉMayoritas ibu bekerja merasa bersalah meninggalkan anak di rumah, terutama saat anak sakit.
πŸ”ΉIbu bekerja dapat bekerja dengan tenang di luar rumah apabila ada keluarga yang bisa membantu mengawasi anak di rumah misalnya ibu mertua atau ibu kandung (nenek). PRT/ babysitter biasanya cenderung kurang memuaskan sehingga opsi terbaik adalah dalam pengawasan keluarga. 

Dari sini saya akhirnya berkeinginan jadi IRT bila sudah melahirkan anak. 
Hal ini sejalan dengan pencarian calon suami yang juga menginginkan istri jadi IRT 😁.

2. Yakin bahwa rezeki istri dan anak dititipkan Allah lewat suami
Hal ini akan menumbuhkan sikap optimis mengenai angka-angka kebutuhan rumah tangga😁.

3. Memelihara motivasi belajar dan membaca setiap waktu
Sebelum menikah baca buku pernikahan, sebelum melahirkan baca buku cara mengurus bayi, parenting, mengelola keuangan RT, dll. Ikut seminar dan training yang topiknya menarik dan kita perlukan, sehingga tidak mudah panik atau salah informasi. 

4. Bertanya pada orang yang tepat
Seringkali ketika akan menghadapi suatu peristiwa baru, kita punya banyak kekuatiran atau keingintahuan. Selain membaca, bila butuh testimoni, bertanyalah pada orang yang tepat. Bukan yang menakut-nakuti, melainkan bisa memaparkan segala sesuatunya baik positif maupun negatifnya 

TIPS MENJADI IRT BAHAGIA
1. Bersyukur dan mendekatkan diri ke Allah
Selain ibadah, juga terus belajar agama dengan pengajian rutin. 
Bersyukur juga salah satu kunci menjadi bahagia.
“Sesungguhnya jika kalian bersyukur, Kami pasti menambah (nikmat) kepada kalian.” (QS Ibrahim: 7)

Bagi nonmuslim, tentu menyesuaikan dengan tuntunan agamanya masing-masing.

2. Cari hobi/passion
Saya sendiri masih berganti-ganti hobi, sempat hobi masak, ganti baking, ganti jahit 😁. Setelah hobi menjahit saya jadi jarang keluar rumah alias makin betah di rumah. Saat anak-anak sekolah, saya bisa jahit 😊.

3. Bila ingin mencari uang, bisa dari rumah
Lebih indah lagi bila mencari uang lewat hobi. Saat ini saya terima orderan tas dan jualan buku anak-anak. Jauh "menyimpang" dari background dan profesi saat kuliah πŸ˜‚. Nggak masalah, selama saya happy dan bisa mendampingi anak-anak setiap hari. 

4. Miliki komunitas ngobrol dengan sahabat atau teman-teman dekat, lebih bagus lagi bila sevisi dalam hal agama, jadi diskusi dan obrolan lebih terarah dalam pedoman yang sama. 
Saya punya komunitas ngobrol isi 20 orang. Ini awalnya sesama ibu ASI, namun masih bertahan dan sangat dekat saat ini. Isinya ada IRT dan ibu bekerja, kegiatannya sharing resep dan info kajian, diskusi masalah sehari-hari dan lain-lainnya. 

5. Terus belajar
Hehe, sama dengan fase persiapan. Belajar sampai akhir hayat. Saat ini saya sedang tertarik belajar sejarah Islam dan meyakini kita perlu belajar sejarah untuk diambil ibroh-nya, bukan hanya sekedar tahu atau hapal. 

6. Bila motivasi awal menjadi IRT adalah motivasi ekstrinsik, ubah motivasinya menjadi motivasi intrinsik
Misalnya: Mencari pahala dan berkah Allah bermodal ridho suami. Nah, menjaga motivasi beragama ini juga melalui kajian rutin. Makanya saya selalu mengajak ibu-ibu muslimah lainnya #yukNgaji. Indah banget muhasabah diri dan terus memperbaiki diri. 

Bagi nonmuslim: misalnya demi mendampingi anak-anak pada usia golden age

7. PD dengan pilihan sebagai IRT
Nggak usah nengok temen seangkatan sudah jadi apa. Mereka boleh jadi punya karier dan gaji sendiri, tapi kita juga punya banyak kebahagiaan di rumah bersama anak dan suami. Banyak belajar dan baca juga membantu mendongkrak self confidence, toh 😊. Mau diajak ngobrol apa pun juga nyambung. 

-------------------------------------
Saya masih menerima konsultasi via japri, kalau saya masih bisa jawab ya saya jawab. Kalau ternyata mesti terapi ke psikolog anak, saya akan refer ke psikolog anak karena saya bukan psikolog anak.
Btw, saya juga berbahagia kalau ada yang japri dan konsul online, sehingga skill saya sebagai psikolog masih terasah. Meski tidak menghasilkan uang, tapi saya senang bila bisa membantu mengarahkan teman-teman mendapatkan insight solusi masalahnya masing-masing 😁.

Alhamdulillah, bahagia itu sebenarnya sederhana. Nggak harus dengan jalan-jalan keluar negeri atau belanja tas branded πŸ˜‹πŸ˜.

Saya masih punya keinginan aktif di luar karena sifatnya bisa freelance/lepasan. Tapi, saatnya bukan sekarang. Contohnya, setua bu Elly Risman pun masih bisa πŸ˜‹

Saya yang dulu liberal (dulu saya finalis beauty pageant nasional), ogah berjilbab, sekarang alhamdulillah menemukan indahnya terus belajar agama. Contohnya, kalau konflik sama suami, tinggal diskusi sama teman atau guru ngaji, trus sholat dan curhat sama Allah, deh, Sang Maha Segalanya. Coba curhatnya sama temen yang nggak paham agama, yang ada tambah panas dan dikompor-komporin πŸ˜‚.
Alhamdulillah dari awal sampai sekarang jadi IRT nggak pakai galau 😊. Tapi belajar jalan terus, masih perlu banyak belajar dalam segala hal. Lah saya memang pengen dari diri sendiri, nggak peduli orang mau bilang apa 😊. Makanya saya sadar saya happy-happy aja karena dari awal motivasi saya jadi IRT sifatnya intrinsik atau internal. 

Background keluarga berpengaruh juga, lho. Kebetulan bapak mertua dokter juga dengan ibu mertua IRT. Suami menimbang, karena dia sibuk, nggak mungkin cari istri yang juga sibuk. Jadi dari suami maupun mertua tidak ada komplain. Malahan om suami yang ingatkan ke suami supaya saya resign saat hamil besar, karena tiap hari saya nyetir sendiri jarak jauh Rawamangun-Cilandak-BSD. Katanya riskan di jalan 😁

Waktu saya menikah, kondisinya ibu saya sudah meninggal sedangkan ayah saya paham istri bergantung ridho suami, jadi nggak komplain juga. Komplain justru datang dari para tante, "Sayang amat, udah S2." Atau teman-teman, "Yakin, lo mau jadi IRT?" "Gak bosen, tuh? Bakal ngapain aja?" 

Tambah satu lagi, saya nggak dekat dengan ibu saya waktu kecil. Saya tidak mau ini terjadi dengan anak-anak saya, makanya saya nggak akan goyah dengan tekad jadi IRT. 

Kecuali mungkin suatu hari ada hal yang bener-bener memaksa untuk kembali bekerja. Kalau cuma kebutuhan rumah tangga mah, berapapun insyaAllah bisa dicukup-cukupkan.
Kalau kita sudah bertekad, meski semesta tak mendukung, tidak akan mengubah niat. Apalagi ada komunitas yang saling mengingatkan. Manusia itu makhluk sosial, jadi tetap perlu social support. Bukan tergantung pada dorongan lingkungan, meski ya, dukungan positif akan menguatkan. Namun suara negatif juga insyaAllah tidak melemahkan.

Berkarya dengan latar belakang masing-masing, misalnya yang sebelumnya berbagi tadi mba Hafshah sebagai dokter (maupun bukan sebagai dokter) meski dari rumah, bisa lho. Misalnya menulis artikel, aktif di komunitas sosial, sharing tips seperti saat ini. Sekecil apa pun, selama bermanfaat untuk orang lain, maka tidak ada yang sia-sia di hadapan Allah.
Terkait ASI, misalnya. Saya mah bukan konselor laktasi, cuma belajar dari AFB/AIMI ASI 😁. Teman saya juga yang flat nipple, pas saya kunjungi saya jadi ala konselor laktasi deh, ngajarin dia posisi latch on yang bener 😁
Masalah ASI itu benar-benar sifatnya psikis dan bergantung mindset. Selama bahagia, yakin cukup, ASI nya pasti cukup. Padahal saya nggak pake booster apa-apa. Payudara juga nggak kencang seperti awal-awal punya baby (newborn). Yakin cukup. Indikator keberhasilan ASI adalah pertambahan berat badan anak-anak, jadi ya terus ngeASI deh. Alhamdulillah kedua anak saya full ASI. Yang belum berhasil full ASI, coba lagi di anak berikutnya. Pasti bisa kecuali ada kelainan fisik pada saluran ASI nya 😊.
 
Namanya ortu, kalau ada cap ibu kejam atas usaha kita yang berbeda dengan pandangan mereka, termasuk soal menyusui, ya dimaklumi saja. Kita dibilang tega karena tidak mau kasih dot, ya padahal kalau keenakan pakai dot juga risiko ke pemberian ASI, kan. Seperti cerita mba Kartini yang bayinya sempat nursing strike atau bingung puting, ibunya resign dan mengalami baby blues. Dari yang awalnya kasih dot untuk memberikan hasil perahan karena ASI susah keluar, akibatnya bayi jadi enggan menyusu langsung. Sudah diupayakan menyusu langsung lagi, tetapi dalam perjuangannya malah seperti ditentang orang tua meski akhirnya berhasil mengusir bingung puting. Baby blues bisa jadi sangat wajar, yang penting ada social support, dan juga perlu banyak baca supaya nggak sampai ke fase cemas apalagi depresi.
Orang tua juga ingin yang terbaik buat kita, anaknya, tapi menurut pandangan mereka. Kitanya yang harus sabar menghadapi, meski 'jleb' dengan komentar ortu 😊. Toh sebagai manusia dewasa, the choice is mine/ours. Kita yang memilih/decide, kitalah yang akan menjalankan dan bertanggung jawab dengan pilihan-pilihan kita, bukan orang tua kita. Nah, anak juga perlu dilatih decision making skill sejak kecil lho ya. Jadi semakin nambah usianya, juga mampu bikin keputusan-keputusan sendiri. Jangan nanya ortunya terus. #parentingTips
Pengasuhan masa lalu akan mempengaruhi pola asuh kita saat ini. Apalagi masih tinggal dengan ortu 😬. Diputus dulu wiring-nya. Kalau ada trauma atau unsolved problem, diselesaikan dulu. Karena kalau ada yang unsolved/unfinished hal itu tetap mempengaruhi psikis kita hari ini, khususnya dalam menjadi orang tua.

Dengan adanya risiko perbedaan pandangan, bagusnya sih pisah rumah meskipun cuma sebelah rumah orangtua. Satu nggak bisa ada dua ratu atau dua aturan. Kecuali ada pertimbangan lain.

Menjawab pertanyaan bagaimana meyakinkan diri supaya bisa happy jadi IRT (selain bersyukur), karena kadang kangen kerja dan jenuh di rumah, terasa kurang dinamis, walaupun hal-hal berbau passion sudah dijalani...nah, kenapa kangen kerja dan jenuh di rumah? Jadi sekarang masih IRT part time, nih😁? Gapapa sih part time. Yang penting utamanya tetap anak dan suami.

Dengan kejenuhan itu energinya berarti mesti disalurkan, misalnya ikut kegiatan Komite Sekolah, olahraga, kegiatan sosial bantu Sejuta Cinta IIP⁩, menulis artikel lepas di majalah, dll. Banyak opsi, selama diridhoi suami 😊.

Kalau capek dengan urusan domestik lalu ujungnya ngomelin suami? Wah, suaminya jangan diomel-omelin, atuh. Di luar rumah, suaminya punya bawahan rapi, nurut, bersih, wangi. Di rumah ketemu istri pake daster, kadang belum mandi, bawel lagi πŸ˜‚.

Ada yang bilang merasa kewalahan dengan kerjaan domestik, ini di rumah ada ART kah? Bila tidak ada, apakah tidak mau atau tidak nemu yang cocok? Kalau saya mudah lelah ketika ART pulang, ini bisa jadi pencetus emosi negatif saya. Jadinya kalau ART lagi pulang saya kerjakan yang prioritas saja supaya nggak kelelahan dan mood jadi jelek dalam menghadapi anak-anak.

Selasa, 23 Agustus 2017
Narasumber : Milfa Myllana
Notulen : Leila Niwanda

Selasa Seru: Serba-serbi Ibu di Ranah Domestik - Hafshah Sumayyah



Melanjutkan sesi berbagi kemarin, anggota berikutnya yang bercerita adalah Hafshah Sumayyah. Berikut kisah Hafshah:

Assalamu'alaikum....

Salam kenal, saya Hafshah, ibu dari 1 anak bernama Khalid. 

Mohon maaf jika selama ini lebih sering jadi silent reader. Alhamdulillah ada sesi sharing gini, bisa sekalian sharing dan curhat juga, hehe.

Melewati Kegalauan antara Karier dan Rumah Tangga

21 tahun, usia di mana status kehidupan saya berubah. Sudah tidak single lagi. 

Saat itu saya masih mahasiswa di UIN Jakarta jurusan pendidikan dokter, semester 5. Tiba-tiba seorang lelaki melamar saya. Saya pikir tidak ada alasan bagi saya untuk menolak. Toh beliau pun mendukung saya untuk lanjut kuliah.  

Setengah yakin, setengah ragu saya melanjutkan proses pernikahan. Alhamdulillah berjalan lancar. Sehari setelah menikah suami langsung ikut saya menginap di rumah sakit karena jadwal saya jaga malam sebagai ko-as saat itu. Seminggu setelahnya suami terbang ke Jepang. Beliau bekerja di sana. 

Awal pernikahan kami penuh perdebatan, apakah saya akan lanjut ko-as atau tidak. Karena sebenarnya suami punya harapan besar saya berhenti dan ikut ke Jepang, menemaninya di sana. 
Tapi saat itu saya masih kekeuh untuk lanjut, karena pertimbangan orang tua dan sayang kuliah masih ada 1,5 tahun lagi. Suami berniat melobi ortu agar meridhai saya berhenti. 
Galau? Iya banget... 

Sampai akhirnya di Jepang suami bertemu teman dokter yang sedang riset di sana. Beliau pun bercerita bagaimana peran strategis dokter di tengah masyarakat. Alhamdulillah, dari perbincangan itu suami mengizinkan saya untuk lanjut kuliah sampai selesai Ujian Kompetensi Kedokteran Indonesia (UKDI) dan pengambilan sumpah dokter. 

Dua setengah tahun kami menjalani hubungan long distance, setelah selesai ko-as dan UKDI saya ikut suami ke Jepang. Sempat kembali ke Indonesia untuk wisuda dan sumpah dokter saja, setelahnya langsung balik ke Jepang.

Dua tahun saya tinggal di Jepang, alhamdulillah diberi karunia buah hati. Ketika kehamilan saya berusia 8 bulan kami memutuskan back for good ke Indonesia. 

Selama di Jepang, alhamdulillah hidup sebagai IRT -istri rumah tangga- tidak ada tantangan sosial. Di sana pun banyak ibu-ibu dengan background pendidikan tinggi tetapi memutuskan untuk di rumah saja mengurus anak dan suami. Tetangga saya waktu itu ada yang dokter gigi.

Nah, tantangan itu mulai terasa saat kita balik ke Jakarta. 

Dari keluarga alhamdulillah nggak terlalu masalah. Ayah saya dukung untuk full didik anak. Ibu yang masih agak berat dan mengatakan, "Jadi dokter itu bukan untuk mengejar uang, apalagi kamu perempuan, tapi mama pengen ilmu kamu itu bermanfaat untuk banyak orang." Kalau dari mertua alhamdulillah baik-baik saja.

Yang membuat saya galau justru lingkungan luar. Pertanyaan yang sering muncul ..

"Praktik di mana sekarang?"
"Eman-eman ya, udah kuliah lama, nggak kerja."
"Jadi dokter di masyarakat bagus lho untuk dakwah, omongannya pasti didengar"
"Oh, nggak praktik, ya, cuma di rumah aja ngurus anak?"

Apalagi melihat teman-teman kuliah yang sudah melesat kariernya, lanjut pendidikan spesialis, bekerja di rumah sakit, kuliah S2, dll.. 

Setahun pertama setelah punya anak sungguh membuat saya galau. Saya tahu ini pilihan terbaik untuk saya saat ini, membersamai anak, menaati perintah suami. Suami bukannya tak ingin kemampuan yang saya miliki ini bisa bermanfaat untuk ummat, tapi nanti dulu... Prioritas saat ini amanah anak dulu. Nanti akan ada waktunya dia izinkan saya untuk berkelana. 

Kegalauan yang nggak jelas itu membuat kinerja saya di ranah domestik pun jadi nggak optimal. Seperti jalan di tempat. Mengasuh anak seadanya.

Setelah berkenalan dengan IIP dan ikut matrikulasi IIP, materi-materinya membuka mata dan pikiran saya. Berdamai dengan keadaan, syukuri apa yang kita alami saat ini. Perjuangkan apa yang memang amanah dunia akhirat kita. Bersungguh-sungguhlah di dalam, maka kamu akan keluar dengan kesungguhanmu. 

Pendidikan formal yang selama ini saya jalani dari TK- kuliah ternyata masih sangat kurang saat praktik langsung di dunia rumah tangga, pendidikan anak, dll. Saya nggak bisa masak, beres-beres rumah malas. Manajemen waktu saya di rumah sangat buruk. 

Alhamdulillah sekarang satu-persatu ilmu dari IIP saya terapkan. Saya berusaha berbenah diri, menjadi diri sendiri, mensyukuri keputusan yang saya ambil saat ini. 

Kini saya mencintai dunia parenting, psikologi, dan bisnis. Sepertinya ini passion terpendam yang saya miliki di masa kecil. Dulu saya suka sekali membaca buku fiksi tentang keluarga, anak. Zaman saya kecil ada buku yang sangat suka saya baca yaitu Sybil dan seri kisah David "A Child Callled It". Saya juga dulu suka berdagang, kalau ke sekolah pasti bawa jualan.

Saya sekarang banyak menimba ilmu parenting dan kerumahtanggaan. Mengikuti beberapa kelas parenting online, mencari komunitas yang mendukung. Suami pun sangat mendukung saya mendalami itu karena dia selalu melihat binar mata saya saat membicarakan tentang anak dan bisnis, hehe. 
Alhamdulillah saya sudah mantap di ranah domestik. Yang membuat mantap adalah ridha suami dan setelah kelas matrikulasi di IIP. Tapi ya kadang masih ada bisikan galau. (Kalau sudah begitu) cuma curhat ke suami, nanti dia kuatin lagi.

Mohon doanya agar saya bisa bersungguh-sungguh di ranah domestik, sehingga nanti dengan kesungguhan amal ini bisa bermanfaat untuk masyarakat luas. Walau saat ini saya nggak paham bagaimana caranya, tapi berharap saja pada Allah untuk diberi petunjuk selalu. 

Target saya 4 tahun ini sudah tercapai misi hidup saya... Menjadi ibu tangguh yang memberikan inspirasi bagi orang lain. 

Sambil mempelajari materi tahap Bunda Sayang, saya ingin mendalami ilmu tumbuh kembang anak dari sisi kesehatan, psikologi, dan agama. Setelah mapan ilmu dan praktik tahap Bunda Cekatan, saya ingin belajar akupunktur dan mengambil kursus konselor laktasi. Berharap dengan ilmu itu saya bisa membantu banyak orang...


Selasa, 23 Agustus 2017
Narasumber : Hafshah Sumayyah
Notulen : Leila Niwanda

Selasa Seru: Serba-serbi Ibu di Ranah Domestik - Eva Pratiwi


Sebagaimana sudah dimulai sejak pekan lalu, Selasa kemarin grup Institut Ibu Profesional (IIP) Jakarta 01 menyelenggarakan Diskusi Seru Selasa. Kali ini temanya adalah Serba-serbi Ibu di Ranah Domestik maupun Publik, meskipun akhirnya lebih banyak cerita mengenai ranah domestik khususnya dari para anggota yang telah merasakan beralih sepenuhnya ke ranah domestik setelah sebelumnya sempat mencicipi ranah publik.

Anggota pertama yang berbagi pengalamannya adalah Eva Pratiwi. Berikut cerita yang Eva sampaikan di grup:

Sedikit sharing dari Eva tentang pengalaman hidup mandiri tanpa bantuan orang tua dan asisten rumah tangga (ART) setelah 4 tahun menikah hidup bersama dengan orang tua.

Mungkin sebagian ibu-ibu lain juga merasa hal yang sama yaitu "bingung" harus memulai dari mana, apa dulu yang harus dikerjakan, apa yang bisa ditunda dan segala macam pekerjaan domestik yang sebelumnya selalu dibantu oleh orang tua dan ART.

Ya, dulu saya dan suami selama 4 tahun tinggal bersama nenek (ibu dari mama saya, karena mama meninggal sejak saya kelas 1 SD dan entah bagaimana ceritanya saya dan kakak tinggal dengan nenek) dengan status saya masih sebagai karyawati di sebuah perusahan swasta. Sejak habis menikah memang saya tidak diizinkan untuk keluar dari rumah nenek. Hitung-hitung sembari menemani nenek, begitu keluarga besar menyampaikan. Alhamdulillah, suami pun setuju.

Karena saya dan suami bekerja maka demi membantu meringankan nenek mengurus rumah, saya putuskan untuk menyewa ART yang masih dari lingkungan keluarga. Jadi selama itu untuk urusan cucian, gosokan, nyapu, ngepel dsb yang berhubungan dengan rumah sudah beres dengan adanya ART. Sedangkan untuk urusan dapur alias masak-masak dibantu sama nenek. Saya paling hanya beberapa kali saja masak. Itu pun hanya untuk suami, karena nenek tidak cocok dengan masakan saya yang suka pedasπŸ˜….

Singkat cerita saat saya hamil anak kedua dengan usia kandungan 6 bulan, tiba-tiba ART yang juga mengasuh anak pertama kami minta berhenti. Alasannya, karena merasa tidak enak hati pasca-operasi hematom si kakak yang disebabkan oleh kelalaiannya. Padahal saya dan suami tidak pernah menyalahkan dia, apalagi minta ganti rugi. Kami anggap insiden itu musibah.

Kami sempat memohon untuk bertahan setidaknya sampai anak kedua kami lahir, tapi dia tidak mau. Kami sudah coba mencari penggantinya, tapi sampai dede lahir tidak juga mendapatkan. Sempat kepikiran untuk men-daycare-kan anak-anak, namun suami tidak setuju.

Akhirnya, mau tidak mau, saya berniat resign demi anak-anak, dan memutuskan mengontrak rumah. Awalnya keluarga besar tidak menyetujui, termasuk ibu mertua. Namun, solusi selain itu tidak ada. Sedangkan waktu terus berjalan, jatah cuti bersalin saya pun segera habis. Dengan sedikit berat hati namun tetap berusaha yakin bahwa ini sudah menjadi jalan hidup saya, akhirnya saya resign. Dan setelah aqiqahan dede Umar kita pun pindah ke rumah kontrakan.

Babak baru dalam hidup saya pun dimulai. Jangan tanya apakah berat badan saya turun. Iyes, turun drastis, hampir 10 kgπŸ˜….

Yang tadinya saya bangun tidur hanya menyiapkan sarapan untuk suami dan saya bersiap-siap berangkat kerja, sekarang bangun tidur saya harus masak, beberes rumah seperti nyapu, ngepel, nyuci baju dan setrika, belum lagi kalau anak-anak bangun.

Awalnya saya merasa kebingungan karena saya belum ketemu ritmenya. Suami pun sempat ikut membantu karena tidak tega. Sebulan pertama saya browsing segala macam tentang tata cara mengatur rumah tanpa ART dengan 2 balita, dan saya langsung praktikkan. 

Minggu pertama saya mulai dengan bangun pukul 4 pagi dan usahakan tidur pukul 8 malam setiap harinya. Harapannya sih, antara pukul 4 pagi sampai 8 malam urusan domestik selesai. Namun pada kenyataannya tidak seperti itu, karena ada bayi yang minum ASI-nya masih belum menentu. Kadang terpaksa menyelesaikan urusan domestik yang belum kelar setelah anak-anak tidur. Biasanya pukul 10 atau 11 malam saya baru selesai dan bisa istirahat.

Apakah ini sehat? Tentu tidak, karena kurang tidur, bahkan saya sempat nge-drop. Lantas suami bilang, "Udah, untuk urusan cucian biar sama ayah, Ibu fokus saja sama anak-anak. Untuk gosokan nanti bisa dirapel saat ayah libur." Serasa ada angin segar, namun ternyata ada tantangan lainnya.

Tantangan pertama datang dari respon ibu mertua yang mengecap saya istri yang malas dan nggak becus mengurus suami😞.

Astaghfirullahal'adzim...😭😭😭 sedih kah? Sedih banget...

Di saat kita dalam keadaan yang sensitif karena baru saja meninggalkan pekerjaan demi berbakti kepada suami yang notabene adalah anaknya tetapi malah dicap seperti itu, ya Alloh ya Rabb... rasanya mau pulang terus peluk nenek😭😭.

Tapi pulang ke rumah nenek tidak akan menyelesaikan masalah, pikir saya saat itu. Lantas apa yang saya lakukan? Ya cuek ajah, nggak mau ambil pusing. Saya anggap itu angin lalu, masuk kuping kanan keluar kuping kiri, sesuai dengan arahan pak suami yang justru minta maaf atas reaksi ibunya. Saya disuruh fokus pada manajemen waktu saja, bagaimana supaya semuanya bisa berjalan sesuai yang saya inginkan. Mulai dari menge-list pekerjaan apa yang akan saya lakukan hari per hari, dan membuat menu masakan untuk seminggu pertama.

Masuk bulan kedua, saya sudah ketemu ritmenya, dimulai dari kebiasaan bobo dede Umar dan kakak Tisha.

Minggu pertama saya tidur 20.00 bangun 03.00 dengan rincian:

3-4 : Nyuci atau masak (saya nyuci saat suami masuk pagi dan malam, kalau suami masuk siang dia yang nyuci)

4-5 : mandi & me time with Alloh (kalau sedang halangan, baca buku)

5-6 : nyiapin sarapan

6-7 : nyapu dan ngepel (tentatif, kalau anak sudah bangun, ngepel dipangkas)

7-10 : sarapan dan full sama anak-anak

11-12 : maksi dan free time (kadang diisi untuk dagang)πŸ˜…

12-13 : me time with Alloh

13-15 : boci sama anak-anak, tapi tentatif. Kadang kalau ada orderan ya packing karena pukul 16.00 biasanya di-pick up (oleh jasa pengiriman)

15-16 : mandi dan Ashar

16-17 : main sore, bisa muter-muter komplek, maen sepeda atau apa sajah

18-19 : ngaji time, biasanya dibablasin sampai Isya

19-20 : makan, lanjut siap-siap bobo

Lebih kurang seperti itu. Apakah berjalan sampai sekarang, alhamdulillah tetap berjalan walau ada penyesuaian di sana-sini karena aktivitas anak-anak pun sudah berubah.

Sebenarnya untuk jam tidur waktu kerja dan tidak kerja hampir sama. Cuma yang berbeda rutinitas di pagi sampai malam harinya. Waktu masih kerja pukul 7 pagi saya berangkat dan sampai rumah pukul 8 malam, kadang saya pulang anak sudah tidurπŸ˜”. Pada saat resign dan di rumah saja, waktu antara pukul 7 pagi sampai pukul 8 malam diisi dengan pekerjaan rumah yang bisa kita sesuaikan, mau dimulai dengan apa dulu.

Saya masih aktif di One Day One Juz (ODOJ), jadi diusahakan setiap ba'da sholat minimal tilawah 2 lembar. Alhamdulillah suami tahu akan hal itu. Pernah saya dikomplain sama mertua, sholat kok lama banget. Tapi sama pak suami disampaikan kalau saya setiap sholat pasti ngaji dulu😁.

Alhamdulillah juga punya suami yang tidak banyak menuntut dalam hal apa pun, dimasakin apa pun selalu dimakan tidak pernah komplain, dan mau berbagi tugas domestik. Termasuk bermain sama anak-anak. Sebelum memutuskan resign dan kami hidup mandiri tanpa ART, saya dan suami sudah membuat kesepakatan akan berbagi tugas, berkomunikasi apa yang tidak disuka, apa yang disuka, terutama suami yang keukeuh "Pokoknya untuk cuci pakaian ayah ajah, ibu fokus sama anak-anak", dan komunikasikan segala sesuatunya termasuk hal kecil sekalipun. 

Sebaiknya memang komunikasikan apa pun dengan pasangan kita, sekalipun itu tentang ibunya atau mertua kitaπŸ˜…. Ini komunikasinya lebih ke pengenalan pribadi saya sih supaya mertua tidak salah persepsi. Bukan bermaksud minta dibela, tapi setidaknya suami kita adalah sebaik-baik penengah. Karena yang lebih tahu kita ya suami kita, pun sebaliknya yang lebih tahu ibu mertua kita ya suami kita.

Untuk visi misi biasanya saya yang menyampaikannya saat beliau ada di rumah. Kebetulan ibu mertua menetap di Jawa. Kalau ke Jakarta paling hanya sekitar 10 harian aja. Itu pun nggak full di rumah saya, sebagian di rumah ipar saya. Dan berlapang dadalah atas ketidaksesuaian dengan ibu mertua, insyaAlloh hidup kita akan berkah dan Alloh akan tunjukan kebaikan dengan caranya.

Sebenarnya mertua saya baik, saya tidak pernah merasa gimana-gimana walaupun dia pernah mengecap saya. Alhamdulillah ke sininya dia melihat sendiri dan akhirnya minta maaf karena pernah bicara seperti itu di awal-awal kami membina rumah tangga😁.

Untuk masak biasanya tinggal masak, karena sayurannya sudah disiangi saat free time. Sempat bingung masak apa aja tiap harinya, dan ini saya sampaikan ke suami. Suami bilang, "Ya kalau bingung mau masak apa, udah nggak usah masak. Beli aja." 

Saya sempat jawab, "Nanti mbah (mertua) komplain, gimana?" Kata suami, "Ya tinggal bilang, 'Abis bingung, Mbah mau masak apa.'"  Kadang saya pun suka bertanya ke mbah, "Masak apa ya, Mbah?" tapi mbah jawabnya ya terserah saya aja. Jadi ya sudah, saat saya ga masak dan beli masakan jadi, beliau nggak komenπŸ˜¬πŸ™πŸ».

Untuk setrikaan saya utamakan pakaian kerja suami, dan itu digosok seluruhnya. Sedangkan baju anak-anak dan baju sehari-hari hanya digosok langsung bagian belakang. Karena bagian depan pasti kegosok saat kita melipatnya, jadi daripada dua kali kerja. Kalau bagian depan digosok dulu terus bagian belakang, nah ini cukup makan waktu kalau menurut saya sihπŸ˜…. Kecuali baju yang depannya bersablon, nah itu tetap digosok tapi dari dalam kemudian dibalik, langsung deh gosok bagian belakangnyaπŸ˜‚πŸ™πŸ».

Tentang waktu sama anak-anak, ketika kakak jam sekolah maka kakak full kegiatan di sekolah, nah dede di rumah saya kasih mainan Hafiz Doll, kan banyak pilihannya tuhπŸ˜…. Sejauh ini dede Umar selalu tidur siang, walaupun kadang waktunya ga melulu pas. Kadang lebih cepat atau malah mundur. Yang kadang nggak tidur siang malah kakaknya dan ini saya biarkan dia bermain, nanti kecapekan main dia akan tidur jugaπŸ˜….

Ba'da maghrib kami ngajinya bergantian. Kalau ada ayahnya biasanya ayah dulu yang ngaji kemudian kakak Tisha, nah dede sama saya. Nanti kalau saya ngaji anak-anak sama ayahnya. Kalau ayahnya sedang nggak ada di rumah, kakak ngaji sama saya kemudian setelah itu saya biarkan dede sama kakak bermain bersama di kamar dan saya ngajiπŸ˜¬πŸ™πŸ».

Intinya, kemantapan hati ibu harus dikuatkan. Percayalah, saat kita ridho atas qodrat kita yang sudah Alloh tentukan harus di rumah dan suami pun ridho dengan pilihan kita, insyaAlloh semua bisa berjalan dengan baik. InsyaAlloh dalam setiap kegiatan juga tidak pernah putus istighfar😘.

Sekian sharing dari sayaπŸ™πŸ»πŸ™πŸ».

Selasa, 23 Agustus 2017
Narasumber : Eva Pratiwi
Notulen : Leila Niwanda