Harmoni Keluarga Inspiratif

Selasa Seru: Serba-serbi Ibu di Ranah Domestik - Hafshah Sumayyah

Wednesday, August 23, 2017


Melanjutkan sesi berbagi kemarin, anggota berikutnya yang bercerita adalah Hafshah Sumayyah. Berikut kisah Hafshah:

Assalamu'alaikum....

Salam kenal, saya Hafshah, ibu dari 1 anak bernama Khalid. 

Mohon maaf jika selama ini lebih sering jadi silent reader. Alhamdulillah ada sesi sharing gini, bisa sekalian sharing dan curhat juga, hehe.

Melewati Kegalauan antara Karier dan Rumah Tangga

21 tahun, usia di mana status kehidupan saya berubah. Sudah tidak single lagi. 

Saat itu saya masih mahasiswa di UIN Jakarta jurusan pendidikan dokter, semester 5. Tiba-tiba seorang lelaki melamar saya. Saya pikir tidak ada alasan bagi saya untuk menolak. Toh beliau pun mendukung saya untuk lanjut kuliah.  

Setengah yakin, setengah ragu saya melanjutkan proses pernikahan. Alhamdulillah berjalan lancar. Sehari setelah menikah suami langsung ikut saya menginap di rumah sakit karena jadwal saya jaga malam sebagai ko-as saat itu. Seminggu setelahnya suami terbang ke Jepang. Beliau bekerja di sana. 

Awal pernikahan kami penuh perdebatan, apakah saya akan lanjut ko-as atau tidak. Karena sebenarnya suami punya harapan besar saya berhenti dan ikut ke Jepang, menemaninya di sana. 
Tapi saat itu saya masih kekeuh untuk lanjut, karena pertimbangan orang tua dan sayang kuliah masih ada 1,5 tahun lagi. Suami berniat melobi ortu agar meridhai saya berhenti. 
Galau? Iya banget... 

Sampai akhirnya di Jepang suami bertemu teman dokter yang sedang riset di sana. Beliau pun bercerita bagaimana peran strategis dokter di tengah masyarakat. Alhamdulillah, dari perbincangan itu suami mengizinkan saya untuk lanjut kuliah sampai selesai Ujian Kompetensi Kedokteran Indonesia (UKDI) dan pengambilan sumpah dokter. 

Dua setengah tahun kami menjalani hubungan long distance, setelah selesai ko-as dan UKDI saya ikut suami ke Jepang. Sempat kembali ke Indonesia untuk wisuda dan sumpah dokter saja, setelahnya langsung balik ke Jepang.

Dua tahun saya tinggal di Jepang, alhamdulillah diberi karunia buah hati. Ketika kehamilan saya berusia 8 bulan kami memutuskan back for good ke Indonesia. 

Selama di Jepang, alhamdulillah hidup sebagai IRT -istri rumah tangga- tidak ada tantangan sosial. Di sana pun banyak ibu-ibu dengan background pendidikan tinggi tetapi memutuskan untuk di rumah saja mengurus anak dan suami. Tetangga saya waktu itu ada yang dokter gigi.

Nah, tantangan itu mulai terasa saat kita balik ke Jakarta. 

Dari keluarga alhamdulillah nggak terlalu masalah. Ayah saya dukung untuk full didik anak. Ibu yang masih agak berat dan mengatakan, "Jadi dokter itu bukan untuk mengejar uang, apalagi kamu perempuan, tapi mama pengen ilmu kamu itu bermanfaat untuk banyak orang." Kalau dari mertua alhamdulillah baik-baik saja.

Yang membuat saya galau justru lingkungan luar. Pertanyaan yang sering muncul ..

"Praktik di mana sekarang?"
"Eman-eman ya, udah kuliah lama, nggak kerja."
"Jadi dokter di masyarakat bagus lho untuk dakwah, omongannya pasti didengar"
"Oh, nggak praktik, ya, cuma di rumah aja ngurus anak?"

Apalagi melihat teman-teman kuliah yang sudah melesat kariernya, lanjut pendidikan spesialis, bekerja di rumah sakit, kuliah S2, dll.. 

Setahun pertama setelah punya anak sungguh membuat saya galau. Saya tahu ini pilihan terbaik untuk saya saat ini, membersamai anak, menaati perintah suami. Suami bukannya tak ingin kemampuan yang saya miliki ini bisa bermanfaat untuk ummat, tapi nanti dulu... Prioritas saat ini amanah anak dulu. Nanti akan ada waktunya dia izinkan saya untuk berkelana. 

Kegalauan yang nggak jelas itu membuat kinerja saya di ranah domestik pun jadi nggak optimal. Seperti jalan di tempat. Mengasuh anak seadanya.

Setelah berkenalan dengan IIP dan ikut matrikulasi IIP, materi-materinya membuka mata dan pikiran saya. Berdamai dengan keadaan, syukuri apa yang kita alami saat ini. Perjuangkan apa yang memang amanah dunia akhirat kita. Bersungguh-sungguhlah di dalam, maka kamu akan keluar dengan kesungguhanmu. 

Pendidikan formal yang selama ini saya jalani dari TK- kuliah ternyata masih sangat kurang saat praktik langsung di dunia rumah tangga, pendidikan anak, dll. Saya nggak bisa masak, beres-beres rumah malas. Manajemen waktu saya di rumah sangat buruk. 

Alhamdulillah sekarang satu-persatu ilmu dari IIP saya terapkan. Saya berusaha berbenah diri, menjadi diri sendiri, mensyukuri keputusan yang saya ambil saat ini. 

Kini saya mencintai dunia parenting, psikologi, dan bisnis. Sepertinya ini passion terpendam yang saya miliki di masa kecil. Dulu saya suka sekali membaca buku fiksi tentang keluarga, anak. Zaman saya kecil ada buku yang sangat suka saya baca yaitu Sybil dan seri kisah David "A Child Callled It". Saya juga dulu suka berdagang, kalau ke sekolah pasti bawa jualan.

Saya sekarang banyak menimba ilmu parenting dan kerumahtanggaan. Mengikuti beberapa kelas parenting online, mencari komunitas yang mendukung. Suami pun sangat mendukung saya mendalami itu karena dia selalu melihat binar mata saya saat membicarakan tentang anak dan bisnis, hehe. 
Alhamdulillah saya sudah mantap di ranah domestik. Yang membuat mantap adalah ridha suami dan setelah kelas matrikulasi di IIP. Tapi ya kadang masih ada bisikan galau. (Kalau sudah begitu) cuma curhat ke suami, nanti dia kuatin lagi.

Mohon doanya agar saya bisa bersungguh-sungguh di ranah domestik, sehingga nanti dengan kesungguhan amal ini bisa bermanfaat untuk masyarakat luas. Walau saat ini saya nggak paham bagaimana caranya, tapi berharap saja pada Allah untuk diberi petunjuk selalu. 

Target saya 4 tahun ini sudah tercapai misi hidup saya... Menjadi ibu tangguh yang memberikan inspirasi bagi orang lain. 

Sambil mempelajari materi tahap Bunda Sayang, saya ingin mendalami ilmu tumbuh kembang anak dari sisi kesehatan, psikologi, dan agama. Setelah mapan ilmu dan praktik tahap Bunda Cekatan, saya ingin belajar akupunktur dan mengambil kursus konselor laktasi. Berharap dengan ilmu itu saya bisa membantu banyak orang...


Selasa, 23 Agustus 2017
Narasumber : Hafshah Sumayyah
Notulen : Leila Niwanda

Post Comment
Post a Comment