Ibu Profesional Jakarta

Harmoni Keluarga Inspiratif

Selesai dengan Diri Sendiri? By Siti Rohmah Megawangi

Wednesday, December 18, 2019
Ada banyak pikiran berkecamuk dalam benakku setiap kali mendengar teman atau sahabat yang sedang mempersiapkan pernikahan. Kemudian muncul pertanyaan, sudah sejauh mana persiapanku?

Sungguh, aku selalu merasa takut menghadapi pernikahan karena ada sesuatu yang terus menghantuiku. Hal itu membuat aku belajar lebih keras tentang bagaimana mempersiapkan pernikahan yang ‘ideal’. Juga belajar tentang bagaimana ilmu pengasuhan yang benar. Pada saat teman-teman seusiaku masih belum memikirkan pernikahan atau bahkan masih asyik nongkrong di cafe dengan perbincangan khas anak muda, aku justru ikut kuliah daring di Institut Ibu Professional (IIP) bersama para perempuan lainnya. Teman-temanku di IIP kebanyakan sudah menikah, bahkan beberapa sudah memiliki anak. Semua proses belajar itu aku lakukan demi mempersiapkan diri sebaik mungkin menghadapi pernikahan yang akan kujalani di masa depan.

Banyak reaksi yang kuterima ketika teman-teman atau sahabatku mengetahui hal tersebut. Ada yang mendukung dan setuju dengan apa yang aku lakukan, tetapi tak jarang juga ada yang heran atau bahkan tertawa mendengarnya.

Ah, sudahlah! Mereka kan tidak tahu alasan sebenarnya aku ikut ini. Ah, sudahlah! Mereka mungkin memang belum memikirkannya. Itu urusan mereka, bukan urusanku!

Lalu, mengapa judul tulisan ini “Selesai dengan Diri Sendiri?” Jadi, begini ….

Aku Ingin Melihat Dudi Lagi by Isya



Uky suka sekali mengayuh perahu kecilnya ke padang lamun. Di sana ada Dudi, si dugong kecil, sahabatnya. Padang lamun adalah tempat Dudi dan induknya mencari makan.

Lamun mirip seperti rumput yang mengakar ke dasar laut dangkal. Akarnya mencengkeram kuat dasar laut sehingga dapat melindungi pantai dari gerusan ombak dan gelombang. Sebab itulah, Dudi, induknya, dan hewan laut lainnya suka ke padang lamun untuk mencari makan.

Uky pertama kali mengenal Dudi saat pergi ke Teluk Banten untuk bermain. Ada suara hewan yang tidak pernah ia dengar ketika mengayuh perahunya. Ternyata dari kejauhan datanglah sepasang dugong. Uky yang penasaran segera memakai kacamata renang dan menceburkan diri ke air. Ia mengamati dengan takjub. Semenjak itu, Uky sering ke padang lamun di teluk untuk melihat Dudi dan induknya.

Dudi kecil sangat lucu. Ia selalu berenang dengan induknya. Kadang Uky ikut menyelam, tetapi tidak terlalu dekat. Takut mengganggu Dudi dan sang induk.

Sore itu, Dudi dan sang induk sedang asyik makan lamun. Namun, tiba-tiba Dudi berhenti makan dan mengelepar-gelepar. Sang induk menatap Dudi dengan cemas.

“Dudi, kamu kenapa?” ujar Uky cemas.
Uky segera melompat ke dalam laut. Dengan hati-hati ia mendekati Dudi. Sambil berharap sang induk tidak mengamuk menyerangnya.

Untung saja sang induk membiarkan Uky mendekati Dudi. Ternyata ada kantung plastik yang tersangkut di mulut Dudi. Plastik itu tersangkut di antara kerongkongan dan rongga mulut, sebagian plastik terurai keluar mulut karena tersangkut di gigi. Uky pun segera menarik kantung plastik itu. Sedikit demi sedikit. Perlahan-lahan.

Akhirnya, plastik itu bisa terlepas. Dudi langsung berenang cepat mendekati sang induk. Sang induk segera menggesekkan kepalanya seraya memeriksa kondisi anaknya. Uky menatap mereka berdua dengan senyum lebar. Setelah itu, ia kembali ke atas perahu kecilnya.

Tak disangka sang induk dan Dudi berenang ke permukaan mendekati perahu Uky. Dudi mendekat. Uky yang heran menyelupkan tangannya ke laut. Ternyata Dudi memperbolehkan tangan Uky menyentuhnya, sebagai rasa terima kasih. Uky senang sekali. 

Dudi dan sang induk berenang menjauh, Uky menatap sambil tersenyum. Setelah keduanya hilang dari pandangan, Uky mengalihkan matanya ke padang lamun. Ditatapnya lamat-lamat. Ternyata di sana sini banyak sampah plastik di dasar laut. Ada botol air mineral, kantung plastik, dan bungkus makanan kecil.

 ***

Wanita-Wanita Di Balik Pembesar Dunia by Octa Raisa

Wednesday, December 4, 2019



“Saya menerima penghargaan ini atas nama keluarga dan anak-anak, menantu, dan cucu, khususnya kepada istri saya tercinta, dokter Hasri Ainun Habibie yang telah mendampingi dengan kesetiaan yang tulus, serta dengan pengorbanan yang ikhlas sehingga saya dapat menjadi hamba Allah seperti sekarang ini,” ucap BJ Habibie pada Pidato Penganugerahan Gelar Doktor Honoris Causa dalam bidang Filsafat dan Teknologi di Universitas Indonesia tahun 2010. Bisa dikatakan, pidato tersebut adalah sebuah penghargaan terbesar kepada seorang istri yang telah mendampingi seorang suami dalam berbagai keadaan.

Mari Sambut Hari Anak Sedunia by Maria Fatimah

Wednesday, November 20, 2019
freepik.com

Hai, Bunda. Belum lama ini kita merayakan Hari Ayah Nasional pada 12 November. Namun, tahukah Bunda kalau ada pula Hari Anak Sedunia yang dirayakan pada 20 November setiap tahunnya?
Yuk, kita bahas lebih lanjut tentang Hari Anak Sedunia.

Kemerdekaan yang HQQ by Anggit Dina Vyatra (Andina Hariadi)

Thursday, August 15, 2019

“MERDEKA ATAU MATI!!!”

Begitulah semboyan para pejuang negeri ini saat maju berperang bersenjatakan bambu runcing melawan penjajah. Itu dulu. Seluruh tetes darah dan keringat para pahlawan berbuah manis dengan pembacaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia oleh pasangan presiden dan wakil presiden pertama, Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta.
Merdeka dalam konteks bernegara tentunya berbeda dengan dalam beragama. Ingat Bilal bin Rabah Radhiyallahu’Anhu? Yang langkah kakinya sudah terdengar di dalam surga, ketika Rasulullah Shalallahu’Alayhi Wa Sallam melakukan perjalanan istimewa Isra’Mi’raj? Dialah Bilal, seorang budak, yang dibeli kebebasannya oleh Abu Bakar Radhiyallahu’Anhu. Dalam beberapa ayat Al Qur’an, disebutkan bahwa memerdekakan budak adalah hal yang mulia, bahkan bisa menjadi kafarat (penebus) dosa tertentu.