Harmoni Keluarga Inspiratif

Playdate Aksi Selamatkan Bumi dari Sampah, Ajak Keluarga Beraksi Peduli Tangani Masalah Sampah Sejak Dini

Saturday, March 9, 2019
buku ibu profesional jakarta
Kontributor picbook Aksi Lima Sahabat Selamatkan Bumi dari Sampah berfoto bersama para peserta playdate

Sampah adalah bagian yang sulit terpisahkan dari kehidupan kita sehari-hari. Apa pun aktivitas kita, kemungkinan besar akan ada sampah yang dihasilkan. Lalu, ke mana sampah-sampah itu pergi?

Ketika membaca atau menonton berita bahwa di perairan Wakatobi, Sulawesi Tenggara, ditemukan seekor paus mati dengan 5,9 kilogram sampah plastik di dalam perutnya, kesadaran kita seperti dientakkan. Sudah cukupkah slogan “buanglah sampah pada tempatnya”? Setelah dibuang, ke mana sampah-sampah itu pergi?


Sudah cukupkah slogan “buanglah sampah pada tempatnya”?

Melalui kegiatan playdate Aksi Selamatkan Bumi dari Sampah di Auditorium Perpustakaan Umum Daerah Provinsi DKI Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Cikini, Sabtu (02/03), Ibu Profesional Jakarta mengajak untuk meningkatkan kepedulian pada masalah sampah. Kegiatan playdate ini sekaligus menandai peluncuran resmi buku bergambar untuk anak yang berjudul Aksi Lima Sahabat Selamatkan Bumi dari Sampah hasil karya Rumah Belajar Menulis Ibu Profesional Jakarta. Tanggal di awal bulan Maret sengaja diambil karena dekat dengan momen peringatan Hari Peduli Sampah Nasional yang jatuh pada tanggal 21 Februari.

Kegiatan playdate diramaikan oleh sekitar 200 peserta yang terdiri atas anak-anak dan orang tua mereka. Ibu Profesional DKI Jakarta juga mengundang perwakilan dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, serta komunitas-komunitas yang memiliki visi dan misi serupa terkait pengelolaan sampah. Sebagaimana disampaikan oleh penanggung jawab kegiatan, Laksemi ‘Ami’ Bania Siregar, “Tema Ibu Profesional pada 2019 adalah sinergi kebermaanfaatan, maka kami menggandeng pemerintahan, menggandeng komunitas-komunitas untuk bersinergi membuat Indonesia yang lebih baik. Karena zero waste itu tidak mudah, maka mari kita lakukan bersama-sama.”

Peserta antusias mengikuti playdate sambil belajar mencintai lingkungan
Rangkaian acara diikuti oleh para peserta dengan antusias, mulai dari pemutaran film, pembuatan kerajinan tangan pesawat celengan dari botol air minum bekas, penyajian dongeng, hingga sesi berbagi dari sahabat bumi.

 "Karena zero waste itu tidak mudah, maka mari kita lakukan bersama-sama."

-Ketua panitia Playdate Laksemi Bania Siregar
Perwakilan dari pemerintah daerah yang hadir menyatakan apresiasinya. Buku ini insya Allah bisa menjadi inspirasi bagi anak-anak kita semua sehingga bisa memulai pemilahan sampah dari sumbernya. Saya sangat yakin bila Bapak-bapak dan Ibu-ibu yang luar biasa ini sudah mau turun gunung untuk menangani sampah, insya Allah masalah sampah di DKI Jakarta ini bisa selesai,” sebut Kepala Bidang Peran Serta Masyarakat Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Djoko Riyanto Budi Hartono dalam sambutannya mengawali kegiatan.

Djoko mengingatkan bahwa Hari Peduli Sampah Nasional dilatarbelakangi oleh tragedi empat belas tahun yang lalu. Tanggal 21 Februari 2005 dini hari, sekitar 150 orang tertimbun oleh gunungan sampah yang longsor di Tempat Pembuangan Akhir Sampah Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi.


Saat ini sampah yang dihasilkan oleh masyarakat DKI Jakarta adalah sekitar 7500 ton perhari. Melalui film pendek yang secara khusus dibuat oleh tim panitia untuk acara playdate, hadirin dapat melihat bahwa tumpukan sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang posisinya sekarang sudah mencapai ketinggian 40 meter. Tentu ini kondisi yang mengkhawatirkan.

Karenanya, Djoko mengingatkan untuk melakukan sesuatu yang sederhana dari rumah masing-masing. Pemakaian kotak makan dan botol minum yang dapat dipakai berulang kali dapat dibiasakan, sekaligus juga untuk menjaga agar apa yang dikonsumsi oleh keluarga tetap higienis.

“Dengan ini saya mengimbau kepada Bapak-bapak dan Ibu-ibu, mari kita gelorakan kembali gerakan untuk menggunakan wadah tumbler dan wadah tempat makanan,” ajak Djoko.

Para peserta membawa tumbler dan kotak makan sendiri

Senada dengan Djoko, Kepala Bidang Pengembangan Perpustakaan dan Pembudayaan Kegemaran Membaca Dinas Perpustakaan dan Kearsipan DKI Jakarta Suryanto menyampaikan bahwa pemakaian barang-barang yang berkonsep zero waste atau setidaknya tidak sekali pakai buang harus dibudayakan.

“Saya yakin semua yang ada di sini ikut menghasilkan sampah, bahkan di ruangan ini kita juga menghasilkan sampah. Untuk itu bagaimana caranya seperti instruksi bapak Gubernur DKI Jakarta, sampah hari ini ada tetapi sampah juga hari ini tuntas. Oleh karena itu program penuntasan sampah tidak hanya oleh orang tuanya saja, tetapi anak-anaknya juga harus menyadari,” jelas Suryanto.

Suryanto juga berharap pemahaman tentang peduli sampah ini juga bisa bergandengan tangan dengan Dinas Pendidikan sehingga anak sejak usia dini telah mendapatkan knowledge transfer mengenai penuntasan sampah. Selain itu, gerakan peduli sampah juga perlu digerakkan dari lingkungan terdekat, mulai dari RT, RW, kelurahan, sampai kecamatan, melalui aksi nyata yang berkesinambungan.


Salah satu aksi nyata yang dapat dilakukan adalah memperpanjang usia pakai suatu barang, tidak membuangnya begitu saja. Dalam kegiatan playdate ini, peserta bersama-sama membuat celengan berbentuk pesawat terbang dari botol air minum dalam kemasan. Sejak penyiapan bahan utama kerajinan tangan yang dibawa dari rumah ini, panitia sudah mengajak agar orang tua mulai men-sounding anak-anak tentang pentingnya pengelolaan sampah. 


Gerakan Sejuta Cinta Ibu Profesional Jakarta juga mengoordinasi pengumpulan donasi mainan dan buku dari para peserta untuk kemudian diserahkan kepada Gerakan Para Pendongeng untuk Kemanusiaan (GePPuK). Sebagai tanda terima kasih, kakak-kakak dari GePPuK menghibur peserta dengan aksi sulap bercerita.

Dongeng tentang Loli si Lalat yang dikemas secara semiinteraktif oleh kak Avi, salah satu dari tim penulis buku, juga menarik perhatian anak-anak yang mendengarkannya dengan penuh semangat. Anak-anak sekaligus diajak untuk berkenalan dengan kelima tokoh Sahabat Bumi dalam buku Aksi Lima Sahabat Selamatkan Bumi dari Sampah, yaitu Andra, Bimo, Caca, Dilan, dan Emma. Edukasi pengenalan jenis-jenis sampah seperti sampah organik, sampah anorganik, dan sampah bahan berbahaya dan beracun (B3) diselipkan di sini.

Membuat celengan pesawat dari botol bekas
Sesi sharing dari Nayla Belva, Sahabat Bumi berusia 10 tahun, tak kalah menarik untuk disimak. Belva bercerita bahwa ia sudah menjalani hijrah nol sampah sejak 2014. Awalnya, Belva membantu mamanya, Efi Femiliyah yang juga Ketua Rumah Belajar Green& Organic Ibu Profesional Jakarta, dalam menjalankan komposting atau memproses sampah organik di rumah. Kepedulian Belva terhadap sampah yang mengancam bumi kemudian juga diwujudkan dengan membawa peralatan makan dan minum serta sapu tangan di dalam tas saat bepergian. Barang-barang ini akan membantu mengurangi sampah bungkus makanan dan minuman sekali buang serta sampah tisu.

Namanya anak-anak, kadang Belva juga masih mengonsumsi makanan dan minuman dalam kemasan yang begitu menggoda. Namun, Belva sudah memiliki kesepakatan dengan orang tuanya, yaitu hanya boleh jajan di hari Senin dan Kamis. Bungkus jajanan ini nantinya masih bisa dimanfaatkan untuk membuat ecobrick, alternatif pengganti batu bata yang terbuat dari sampah plastik yang dipadatkan dalam botol.


Meskipun playdate yang secara khusus mengangkat tema menyelamatkan bumi dari sampah ini baru pertama kali diselenggarakan oleh Ibu Profesional Jakarta, tetapi konsep minim sampah sesungguhnya telah dijalankan dalam kegiatan-kegiatan offline-nya sejak beberapa tahun terakhir. Sebagaimana yang diterapkan dalam playdate ini, panitia tidak menyediakan snack box dan mempersilakan peserta membawa kotak makan masing-masing dari rumah untuk mengambil kudapan yang disuguhkan. Demikian juga dengan minuman, peserta membawa botol sendiri dan panitia menyiapkan air dalam kemasan galon untuk mengisinya.

Yesi Dwi Fitria, Ketua Komunitas Ibu Profesional yang juga hadir mengungkapkan rasa salutnya pada program Ibu Profesional di setiap daerah dan wilayah dengan kekhasannya masing-masing, termasuk tema Hijrah Nol Sampah yang diambil oleh Ibu Profesional Jakarta. Program Hijrah Nol Sampah sudah berjalan sejak pertengahan tahun 2018, dan buku Aksi Lima Sahabat Selamatkan Bumi dari Sampah serta buku Hijrah Nol Sampah Journey yang segera menyusul diharapkan menjadi rekam jejak para peserta program yang dapat menginspirasi khalayak yang lebih luas.


Buku Aksi Lima Sahabat Selamatkan Bumi dari Sampah diterbitkan oleh Cikal Aksara, berisi 13 cerita pendek yang dilengkapi dengan aktivitas seru serta fakta mengenai pengolahan sampah. Ilustrasi penuh warna yang menarik dan dekat dengan keseharian membuat anak-anak betah menekuni halaman demi halaman. Konten langkah-langkah praktis yang dapat dilakukan di rumah seperti pembuatan lubang resapan biopori, penanaman sisa sayuran, pembuatan kompos, serta pemanfaatan barang bekas diharapkan mampu mengedukasi dan menginspirasi pembaca, khususnya anak dan orangtua, untuk mulai berperan aktif dalam aksi penyelamatan bumi dari sampah.

Buku Aksi Lima Sahabat Selamatkan Bumi dari Sampah dan sedotan bambu sebagai souvenir playdate
Atas suksesnya playdate sekaligus grand launching picbook Aksi Lima Sahabat Selamatkan Bumi dari Sampah, Ibu Profesional Jakarta mengucapkan terima kasih kepada:

  • Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan⁣
  • Kepala Pengembangan Perpustakaan dan Pembudayaan Kegemaran Membaca Dinas Perpustakaan dan Arsip DKI Jakarta Suryanto⁣
  • Kepala Bidang Peran Serta Masyarakat Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Dr. Ir. Djoko Riyanto Budi Hartono⁣
  • Ibu Nani Suwaryani dari Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga Kemendikbud RI⁣
  • Media Indonesia - liputan "Selamatkan Bumi dari Sampah"
  • Farah Magazine - liputan keseruan playdate Aksi Selamatkan Bumi dari Sampah
  • Beebikinan
  • GePPuk
  • Seluruh undangan, peserta, panitia dan para relawan yang telah membantu terlaksananya acara dengan baik dan meriah.⁣⁣

-
Kontributor: Leila Rizki Niwanda
Editor: Helenamantra
Post Comment
Post a Comment